Orang tua
Ketika anak takut matematika: tiga hal yang bisa dicoba di rumah

Banyak anak berkata "saya tidak bisa matematika" padahal yang terjadi adalah satu bagian lama yang belum kuat, lalu semua bagian di atasnya terasa goyah. Orang tua tidak perlu pandai matematika untuk membantu; tiga langkah ini cukup.
1. Cari bagian pertama yang goyah
Minta anak mengerjakan satu soal dari bab sebelumnya, lalu dua bab sebelumnya lagi. Bila ia lancar di soal kelas 4 tetapi tersendat di pecahan, itulah titik awalnya. Menambal bagian yang tepat lebih berguna daripada mengulang bab yang sedang berjalan.
2. Minta ia menjelaskan, bukan menjawab
"Ceritakan kepada Ibu langkahnya" lebih berguna daripada "Berapa hasilnya?". Anak yang bisa menjelaskan langkah sedang membangun pemahaman; anak yang hanya menghafal biasanya tersendat bila soalnya diubah sedikit.
3. Rayakan perbaikan kecil
Catat satu hal yang membaik tiap minggu: "minggu lalu pecahan senilai terasa sulit, sekarang bisa tiga dari lima". Perbaikan yang terlihat mengubah cerita di kepala anak dari "saya tidak bisa" menjadi "saya sedang belajar".
Hal yang sebaiknya dihindari
- Membandingkan dengan kakak atau teman.
- Menambah soal sebanyak-banyaknya saat anak sudah lelah.
- Menunjukkan kekhawatiran berlebihan. Anak mudah menangkapnya.
Kapan mencari bantuan
Bila setelah beberapa pekan belum ada perubahan, atau anak mulai menolak belajar sama sekali, bicarakan dengan guru di sekolah. Tes diagnostik di bimbingan belajar, termasuk di Rumah Tuntas, bisa membantu menemukan titik awal; tetapi ia hanya alat, dan keputusan tetap di tangan keluarga.